Setiap orang memang memiliki karakternya masing-masing tentu semua itu juga dapat dipengaruhi oleh apa yang telah dilihat, dirasakan, didengar yang berulang-ulang dalam lingkunganya sehingga bertumbuh secara otomatis membentuk kebiasaan dan menjadi karakter pribadi sebagai respon terhadap pengaruh dari luar.
Lalu apakah kebiasaan tidak dapat dirubah? bisa dirubah ataupun tidaknya itu tergantung pada orang yang bersangkutan, karena setiap orang memiliki hati dan pikiran, selama hati dan pikiran seseorang membuka diri terhadap perubahan maka perubahan itu kapanpun bisa terjadi, namun sebaliknya bila seseorang menutup diri dan bertahan terhadap pengaruh dari luar maka siapapun tidak akan dapat mengubah kebiasaanya, entah itu kebiasaan baik ataupun buruk, jadi segala perubahan tergantung pada kesadaran diri dan kerelaan hati orang tersebut.
Apakah yang dapat membuat seseorang mau membuka diri terhadap perubahan? jawabanya karena memiliki rasa "PERCAYA", percaya terhadap pengharapan bahwa dengan belajar hal yang baru akan dapat mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
Menjadi sabar apakah mungkin? bagi orang tertentu mungkin bukan suatu masalah yang berarti namun bagi orang yang lain yang memiliki masalah dalam pengendalian diri tentu ini menjadi masalah yang serius dan apalagi bagi orang yang berwatak keras, reaktif dan suka berpikir pendek tanpa pertimbangan.
Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan orang tiba-tiba menjadi lebih pemarah :
- Kecewa karena sikap orang lain
- Harapan yang tidak terwujud
- Putus asa
- Kurang punya rasa empati terhadap orang lain
- Tidak mengasihi
- Kelelahan
- dll
Setiap orang memiliki alasan masing-masing mengapa tidak sabar sehingga menjadi pemarah dan pada akhirnya semuanya itu bermuara pada satu alasan yaitu "HATI YANG TIDAK BAHAGIA".
Apakah rasa marah itu suatu hal yang haram untuk timbul dalam hati? Tentu saja marah adalah hal yang wajar sebagai reaksi terhadap situasi tertentu di luar kita terhadap hal yang tidak kita sukai, namun yang menjadi masalah utama bukan tentang marahnya karena itu reaksi yang alami, tetapi lebih kepada perbuatan yang di timbulkan sebagai luapan akan rasa marah itu sendiri.
Ada orang yang karena marah melampiaskan diri dengan menangis, mengurung diri, mengomel, membentak, memukul, merusak barang, membunuh, menyiksa diri, pada titik tertentu hingga menyebabkan depresi berkepanjangan sehingga menjadi sakit jasmani bahkan jiwa yang terganggu atau hingga fatalnya adalah bunuh diri. Karena jika masalah yang tidak segera di selesaikan dan berkepanjangan akan memberikan efek yang buruk yang berkelanjutan yang tentunya akan sangat merugikan bagi diri sendiri dan orang lain pada akhirnya.
Rasa marah yang berlebih ini tentunya menyangkut pada psikis atau pikiran dan cara menanganinya tentunya dengan pengelolaan pikiran juga, karena masalah hati dan pikiran adalah hal yang menyangkut rohani seseorang.
Lalu apakah yang harus di perbuat :
Berbahagialah
Orang yang tidak bahagia akan selalu muram dan orang yang selalu muram akan mudah sekali tersinggung jika sedikit saja diusik. Lalu bagaimanakah mungkin kita bahagia bila hati kita berduka? Yaitu mulailah belajar berpikir positif dalam segala hal dan bersyukurlah akan hidup.
Berbahagialah
Orang yang tidak bahagia akan selalu muram dan orang yang selalu muram akan mudah sekali tersinggung jika sedikit saja diusik. Lalu bagaimanakah mungkin kita bahagia bila hati kita berduka? Yaitu mulailah belajar berpikir positif dalam segala hal dan bersyukurlah akan hidup.
Berpikir sebelum bertindak
Jangan menunggu peristiwa yang membuat kita marah itu datang, tapi saat ini juga berpikirlah sebelum bertindak, apakah dampaknya bila kita bereaksi seperti kebiasaan kita ketika sedang marah, apakah tindakan kita dapat menyelesaikan masalah, atau menambah masalah baru, apakah merugikan/menyakiti orang lain dan diri sendiri ataukah tidak, kita perlu memikirkanya dampak baik dan buruknya segala tindakan yang akan kita perbuat, jangan sampai yang kita perbuat hanya menuruti nafsu marah saja tapi malah akhirnya ketika badai berlalu hanya akan menyisakan kerusakan yang tidak akan mudah di pulihkan sediakala, sehingga hanya menimbulkan penyesalan.
Curhat kepada Tuhan
"Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam (mazmur4:5)" tidak ada gunanya bukan , jika kita hanya berdebat dengan diri sendiri dalam hati, biar Dia yang ada di tempat tersembunyi membalas keluhan atas masalah kita dan memberikan pencerahan dalam hati kita, agar yang jahat jangan mengambil keuntungan dari situasi kita.
Berjaga-jaga
"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh dalam pencobaan: roh memang penurut tetapi daging lemah (mat26:41)" Kita tidak tahu kapan dan dimana lalu melalui siapa situasi yang tidak kita inginkan akan menyerang kita, karena domba tidak tahu apa-apa yang ada di sekitarnya, apakah ada serigala yang mengendap-endap yang segera mencari kesempatan menyergap, atau ada perangkap atau jalan yang tidak aman bagi si domba yang dapat mencelakainya nanti, tetapi domba yang selalu ada di dekat gembala akan selalu ada dalam pengawasanya dan selalu di pimpinya dalam segala jalan dimana si domba di gembalakan. oleh karena si jahat dapat memakai siapapun dan apapun untuk menyerang kita sehingga masalah menimpa kita dan oleh karena masalah itu hati kita di cobai dan kelemahan kita akan nampak lebih dahulu dalam diri kita, orang yang mudah marah akan segera meledak dan berbuat jahat dengan perbuatanya. Dan kita ingatlah akan hal ini ketika kemarahan itu memang sedang kita rasakan: "Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa pada kejahatan. Sebab orang yang berbuat jahat akan di lenyapkan, tetapi orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri (mazmur37:8-9)".

Komentar
Posting Komentar