Bahagia adalah suatu rasa yang ada dalam hati karena kita merasakan kebaikan terhadap suatu hal yang menyenangkan hati itu sendiri. Setiap orang berharap memperoleh kebahagiaan itu, sebab hidup tanpa kebahagiaan adalah hidup yang terasa kosong, tanpa semangat dan bahkan tidak berharap untuk hidup jauh lebih lama lagi, sebab tidak lagi memiliki motivasi yang menjadi tenaga pendorong untuk mencapai sesuatu sebagai alasan hidup.
Menjadi bahagia memang bukan suatu hal yang mudah bagi seseorang bila sudah terjebak di dalam suatu masalah, apalagi masalah yang pelik dan belum ditemukan cara mengatasinya dan semakin lama masalah tersebut mengendap dan tidak terselesaikan akan semakin membebani hati dan pikiran sehingga sangat rentan menjadi stress dan depresi, dari yang awalnya sakit dalam hal rohani dapat menjalar pada sakit secara jasmani, contoh sederhananya sakit kepala karena berpikir terlalu berat.
Apakah hal yang bisa mempengaruhi seseorang menjadi bahagia atau tidak? tentu semua hal yang menyangkut suatu rasa, maka akan kembali pada hal yang menyangkut hati dan pikiran kita, kita sebagai seorang pribadi hanyalah meresponi setiap kejadian dari luar / yang berada di lingkungan dimana kita berada, lalu setiap informasi yang dari luar diri kita itulah yang masuk dan di kelola dalam manajemen pikiran kita, bila manajemen pikiran itu baik maka informasi apapun dari luar akan dapat di kelola dengan baik untuk menghasilkan suatu kesimpulan, "baik" dalam hal ini adalah kemampuan kita untuk mengelola segala informasi yang menjadi sumber persoalan sehingga dapat terhindar dari pikiran yang dapat membawa keterpurukan rohani sehingga menjadi stres hingga depresi dsb, kesimpulan yang di lahirkan itulah yang lalu menjadi suatu ketetapan bagi diri kita sendiri yang menentukan sikap hati dan menjadi jalan pikiran yang melahirkan buah pikiran-pikiran yang baru, entah itu pikiran yang baik atau tidak, pikiran pesimis atau optimis dll, pikiran ini yang akan membuahkan segala sikap dan perbuatan yang nampak dalam diri setiap orang.
Lalu apakah yang harus di perbuat?
Selalu belajar berpikir positif
Oleh karena kebahagiaan adalah hal yang menyangkut hati dan pikiran yang menciptakan rasa sebagai hasilnya, maka dengan berpikiran positif terhadap segala informasi yang masuk ke dalam pikiran kita akan di kelola dan diarahkan pada hal-hal yang positif pula, misalnya kita sedang menemui dijalanan ada orang yang marah-marah hanya karena masalah yang sepele, lalu kita berpikir positif terhadap dia, kita menganggab orang tersebut mungkin sedang ada masalah di keluarganya sehingga dia tidak bahagia dan mudah tersinggung, hatinya sedang tidak stabil, mungkin kalau hatinya bahagia dia tidak akan bersikap berlebihan seperti itu, dengan demikian diri kita dapat memaklumi tidak turut marah-marah ataupun tersinggung terhadap sikap orang tersebut.
Tersenyumlah sekalipun itu bohong
Ketika kita sedang muram cobalah untuk melihat muka kita ke kaca, ternyata kita jelek bukan kalau muram, wajah muram adalah refleksi dari perasaan dalam hati kita yang tidak bahagia, tetapi lakukan sebaliknya, buatlah senyum di wajah kita untuk merefleksikan kebahagiaan kedalam hati kita.
Mensyukuri hidup
Kita harus memiliki kemampuan yang satu ini, jika tidak, kita hanya akan terjebak dalam ambisi kita sendiri yang tidak akan ada akhirnya, karena kita akan selalu ingin mencapai yang baru setelah yang lama tercapai, atau ambisi itu belum kunjung tercapai akhirnya putus asa dan stress atau bahkan akan menghalalkan segala cara entah itu akan merugikan diri sendiri pada akhirnya atau tidak, Mencapai hal yang baru dengan cara yang benar memang baik tapi selalu di iringi rasa syukur agar apa yang kita lakukan itu memiliki rem alami, ketika kita terlalu berambisi kita ingatkan pada diri kita sendiri bahwa "hal ini" memang penting tetapi hidup benar itu jauh lebih penting, hidup benar itu apa? yaitu menjaga diri kita sendiri dan orang lain agar tidak dirugikan oleh karena ambisi pribadi kita untuk mencapai sesuatu.
Percaya pada Dia yang menciptakan hidup
Kita mungkin memiliki banyak waktu dengan berdebat dengan diri sendiri, namun jika itu tidak menyelesaikan atau menemukan jawaban atas masalah kita maka kita perlu kekuatan dari luar diri kita, dalam hal ini jika kita percaya akan Tuhan maka kita akan mempercayakan hidup kita kepadaNya, kita tidak bisa untuk terus memikul beban yang sudah terasa berat di pundak, jika kita sudah merasakan kelelahan dan pada akhirnya kita akan tumbang juga. Milikilah kepercayaan bahwa kita ada dan lahir di dunia ini bukan secara kebetulan tetapi ada yang melahirkan, memang benar itu adalah orang tua kita, tetapi orang tua kita itu adalah perantara bagi Tuhan untuk melahirkan kita kedunia, lalu setelah kita lahir apakah di biarkan begitu saja? tentu saja tidak, lihat saja dunia ini semua berjalan saling berkaitan, lautan tidak terus kedaratan, langit menurunkan hujan, ada musim mangga ada musim yang lain dsb, itu sebagai bukti ada yang memelihara kehidupan, kehidupan itu siapa? ya diri kita ini adalah kehidupan, kita yang hidup ini ada yang memperhatikan sekalipun kita tidak bisa melihat dengan mata, tetapi kita bisa merasakan. Jadi teguhkan hati kita dengan percaya kepadaNya agar kita selalu bahagia karena kita tahu hidup kita ada yang memperhatikan. Dengan menjalin hubungan baik denganNya akan membuat hati menjadi tentram dan mengenali PribadiNya akan menjadi dasar segala pemikiran kita untuk berusaha berpikir dan bersikap yang benar, oleh karena "Dimana ada kebenaran disitu akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya (yesaya32:17)". dan di dalam doa secara pribadi akan membuka hati kita untuk mendapatkan pencerahan dari Dia yang tidak dapat di lihat oleh mata namun bisa dirasakan dengan hati.
Jangan kuatir
Kekuatiran dan rasa takut memang bukan suatu yang salah dan itu adalah hal yang wajar agar kita selalu waspada terhadap suatu hal, namun takut dan kuatir disini adalah dalam hal yang terlalu berlebihan sehingga melahirkan pikiran-pikiran negatif yang membuat kita terpuruk. Kita belajar pada apa yang di alami oleh Ayub "Karena yang aku takutkan, itulah yang menimpa aku,
dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapatkan ketenangan dan ketentraman; aku tidak tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul (ayub3:25-26)". Jika melihat akan hal ini, lalu apakah yang membedakan antara iman percaya dengan ketakutan / kekuatiran. Kalau kita percaya bahwa yang baik itu akan datang dan terwujud lalu kita terus memikirkanya dan meyakininya maka suatu saat terwujud karena iman kita tersebut, namun dalam kasus Ayub, dia takut akan sesuatu dan selalu kuatir akan hal itu akan terjadi, jangan-jangan ini akan terjadi dan pikiranya selalu di gandrungi akan kekuatiran itu, kira-kia seperti itu yang di rasakan Ayub, dan bersama waktu kekuatiranya juga terwujud menjadi kenyataan. Namun ketakutan / kekuatiran dan pikiran datangnya hal baik, keduanya memiliki kesamaan yaitu seperti membentuk suatu bulatan PENGHARAPAN di dalam hati sekalipun hal buruk tidak pernah kita inginkan terjadi, namun jika terus memikirkanya sehingga membentuk bola salju dalam hati kita bukankah itu akan tidak ada bedanya dengan iman percaya seseorang akan datangnya hal baik yang di imani itu akan terjadi.
Dan akhirnya apapun yang akan kita lakukan berhasil atau tidaknya akan selalu membutuhkan apa yang di sebut dengan "KEPERCAYAAN" sebagai awal untuk membuka dan mengijinkan hati untuk membangun ataupun memperbaiki diri sehingga dapat menciptakan perubahan.

Komentar
Posting Komentar